Misteri Buluh Perindu Bukit Maras Riau Silip Kabupaten Bangka
Misteri Buluh Perindu Bukit
Maras Riau Silip Kabupaten Bangka
Konon
di sebuah Desa di Kecamatan Riau Silip yaitu Desa Buhir di dekat kaki sebuah
bukit terdapat sebuah Kerajaan yang dipimpin oleh seorang Raja. Raja itu
tinggal bersama sepasang anaknya, Maras dan Rindu. Sebelumnya Kerajaan itu
begitu tentram dan damai, sampai suatu ketika sang Raja menikah lagi dengan
seorang perempuan yang memiliki latar belakang kehidupan yang bukan dari
keturanan kerajaan, Perempuan itu memiliki seorang anak laki-laki bernama
Tambun. Sikap seorang Ibu dan anak itu sangatlah licik dan kejam, mereka
berkeinginan untuk menjadi kaya raya dengan cara merebut semua kekayaan milik
Kerajaan.
Pada
suatu hari ketika Maras dan Rindu sedang terlelap akal licik dari Tambun dan
Ibunya pun beraksi. Saat itu Raja tengah mengidap sebuah penyakit ringan yang
membuat Raja terus batuk di tengah malam, hal inilah yang mendukung rencana
jahat Tambun dan ibunya. Mereka mencampurkan sebuah racun kedalam minuman sang
Raja agar Raja cepat mengakhiri hidupnya dan mereka pun cepat mengambil alih
tahta kerajaan.
Keesokan
harinya, betapa terkejutnya Putra Putri sang Raja ketika melihat Ayahanda
mereka telah terbaring kaku di tempat tidurnya. Disana terlihat Tambun dan
ibunya menangis tersedu-sedu seperti merasa kehilngan. Tambun dan ibunya mulai
bercerita tentang kematian sang Raja dengan cerita yang mereka ada-adakan.
Sejak saat itu pimpinan kerajaan di pimpin oleh Maras, hal itu di karenakan
masyarakt lebih percaya dan sudah mengenal Maras sebagai anak kandung dari sang Raja dan juga sikap bijaksana serta
arifnya. Mendengar keputusan tersebut Tambun merasa kesal dan tidak terima,
tapi dia dan Ibunya tidak dapat berbuat apapun selain merancang sebuah ide
licik lagi untuk situasi kedepannya demi menggapai tujuan awal mereka .
Setelah
beberapa lama dari waktu pertama masa pimpinan Maras, Rindu dan Maras barulah
mengetahui sikap Tambun dan Ibunya yang sesungguhnya. Tetapi sungguh naas,
mereka tidak dapat mengusir mereka langsung dari Kerajaan dikarenakan mengenang
pesan sang ayah ketika masih hidup bahwa Ayah mereka sangatlah mencintai Ibu
Tiri mereka dan berpesan agar merekapun melakukan hal yang sama seperti apa
yang Ayah mereka rasakan untuk Ibu Tiri mereka. Hal itu menandakan mereka harus
tetap patuh terhadap Ibu Tiri mereka sebagai wasiat dari sang Ayah.
Suatu
ketika terdengar kabar oleh ibu Tambun dari masyarakat bahwa terdapat sebuah
pusaka sakti di puncak bukit di dekat kerajaan mereka. Pusaka tersebut dapat
membuat siapa saja yang memilikinya menjadi sakti dan bisa mendapatkan apa yang
mereka inginkan. Tentulah sang ibu segera memberi tahu kabar tersebut kepada
Tambun namun secara diam-diam agar tidak ingin penghuni kerajaan tahu mengenai
kabar tesebut. Namun disaat sang ibu memberi tahu kabar tersebut kepada
Tambun,tak sengaja Rindu mendengar pembicaraan mereka dan kabar itu segera ia
katakan kepada sang kakak, Maras. Maras yang mendengarkan hal tersebut, segera
menyiapkan perbekalan yang akan dibawanya. Karena Ia juga pastilah mengetahui
bahwa Tambun sudah mendahuluinya untuk pergi mengambil Pusaka di Puncak bukit.
Beberapa hari setelah Tambun dan
Maras pergi mendakit bukit, Kerajaan menjadi sedikit terbengkalai. Rindu yang diriwayatkan oleh Maras untuk
mengganti posisinya beberapa hari, seperti tidak dapat membuat keputusan apa-apa
disaat Ibu Tiri mereka mulai memerintah dan mulai mengambil alih pimpinan
kerajaan. Rindu yang memiliki sikap lemah lembut itu tak dapat berbuat apapun
selain menunggu Sang Kakak kembali dari perginya mencari Pusaka.
Pada
suatu hari, disaat sudah genap 1 minggu Rindu mulai resah memikirkan Maras.
Hatinya begitu penuh kegelisahan, bahkan keadaan Kerajaanpun dikesampingkannya
karena memikirkan Sang Kakak yang belum juga kembali. Ibu Tiri mereka yang
sudah menimang nikmat dari apa yang diinginkannya, semakin menginginkan semua
yang tidak berpihak kepadanya di Kerajaan itu pergi, termasuk Rindu. Ide-ide
jahatnya mulai dijalankannya dengan mengandalkan keyakinannya bahwa Tambun
pasti akan berhasil pulang membawa pusaka, Ia mulai memberitahu masyarakat
Kerajaan bahwa Maras dan Tambun telah tersesat di Bukit dengan firasat seorang Ibunya dan desas-desis cerita
mistis yang jadi bumbu isu ceritanya. Rindu, yang mendengar cerita itu tak
tinggal diam, Ia segera menyiapkan segala pembekalannya untuk menyusul Maras,
tekadnya bertambah begitu kuat disaat Ibu Tiri mereka terus menghasut dirinya
untuk menolong Sang Kakak yang tersesat.
Mulailah
perjalanan Rindu menelusuri bukit sambil berteriak-teriak diiringi isak tangis
dikala memanggil nama Maras. Kesedihannya pun semakin mendalam ketika dirinya tidak
kunjung menemui wujud Lelaki yang dicarinya. Disisi lainnya, Maras dan Tambun
ternyata benar tersesat. Mereka sulit menemukan jalan untuk kembali atau jalan
menuju tempat pusaka. Hingga suatu ketika, di sebuah tempat dilebatnya hutan di
bukit itu, tak sengaja Tambun yang sedang mencari-cari jalan dengan wajah yang
mulai putus asa, mendengar suara Rindu yang meneriaki nama Maras. Segera Ia
bergegas ke sumber suara Rindu dan bertemulah mereka berdua. Rindu begitu
senang ketika mendapati Tambun yang masih baik-baik saja, dalam benaknya Ia
dapat berharap Sang Kakakpun masih tetap hidup dan baik-baik saja. Pada
pertemuan Tambun dan Rindu, Tambun membohongi Rindu dengan mengatakan bahwa Ia
pernah bertemu dengan Maras. Tambun menunjukkan arah jalan ke tempat yang Ia
ceritakan saat bertemu dengan Maras, hal itu semata-mata untuk mengelabuhi
Rindu untuk masuk ke tempat yang lebat hutannya.
Rindu
kini terus berjalan menelusuri tempat yang ditunjukkan oleh Tambun, tanpa ia
sadari ia mulai semakin masuk kedalam
hutan di Bukit itu. Akhir cerita, karena keegoisan dan kelicikkannya Tambun
tewas karena jatuh ke jurang, jurang itu telah banyak tertimbun tanah dan
membuat gundukan baru membentuk Bukit Tambun Tulang.
Kini, Warga Riau
Silip meyakini, bahwa Maras sebenarnya telah berhasil mendapatkan pusaka tetapi
Ia tak menginginkan untuk kembali ke kerajaan karena Rindu telah berada
didekatnya. Di suatu tempat di Bukit Tambun Tulang, warga meyakini pula bahwa
ada beberapa pohon bambu yang selalu bergesek merdu disaat angin meniup
pohonnya dengan dijaga seekor burung Karasarong, yang mana hal itu dianggap
oleh masyarakat perwujudan dari Rindu, Sang adik Maras.
Komentar
Posting Komentar