LAPORAN ARTEMIA



BAB I . PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Artemia merupakan pakan alami yang sangat penting dalam pembenihan ikan laut, krustacea, ikan konsumsi air tawar dan ikan hias. Ini terjadi karena artemia memiliki gizi yang tinggi, serta ukurannya sesuai dengan bukaan mulut hampir seluruh jenis larva ikan (Djarijah, 2003).
Kebutuhan artemia pada produksi benih ikan dan udang skala intensif harus dipenuhi dalam waktu beberapa jam saja karena laju pencernaan pada larva begitu cepat. Sedangkan dalam waktu normal penetasan kista artemia dalam air laut adalah 24-36 jam pada suhu 25oC. Penetasan kista (telur) artemia harus dilakukan dalam waktu yang lebih singkat dan dalam jumlah yang besar. Sehingga dibutuhkan teknologi terapan yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut, teknologi yang telah berkembang untuk menjawab tantangan tersebut adalah dekapsulasi kista artemia. Cara dekapsulasi dilakukan dengan mengupas bagian luar kista menggunakan larutan hipoklorit tanpa mempengaruhi kelangsungan hidup embrio. Cara dekapsulasi merupakan cara yang tidak umum digunakan pada panti-panti benih, namun untuk meningkatkan daya tetas dan meneghilangkan penyakit yang dibawa oleh kista artemia cara dekapsulasi lebih baik digunakan (Bougias, 2008).

1.2  Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui proses penetasan dan perkembangbiakan dari artemia serta dapat mengidentifikasi dan mengetahui cara reproduksinya.






BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Morfologi
Kista artemia berbentuk bulat berlekuk dalam keadaan kering dan bulat penuh dalam keadaan basah. Warnanya coklat yang diselubungi oleh cangkang yang tebal dan kuat. Cangkang ini berguna untuk melindungi embrio terhadap pengaruh kekeringan, benturan keras, sinar ultra violet dan mempermudah pengapungan (Mudjiman, 2008). Artemia dewasa  memiliki ukuran antara 10-20 mm dengan berat sekitar 10 mg. Bagian kepalanya lebih besar dan kemudian mengecil hingga bagian ekor. Mempunyai sepasang mata dan sepasang antenulla yang terletak pada bagian kepala. Pada bagian tubuh terdapat sebelas pasang kaki yang disebut thoracopoda. Alat kelamin terletak antara ekor dan pasangan kaki paling belakang. Salah satu antena artemia jantan berkembang menjadi alat penjepit, sedangkan pada betina antena berfungsi sebagai alat sensor. Jika kandungan oksigen optimal, maka artemia akan berwarna kuning atau merah jambu. Warna ini bisa berubah menjadi kehijauan apabila mereka banyak mengkonsumsi mikroalga. Pada kondisi yang ideal seperti ini, artemia akan tumbuh dengan cepat (Priyambodo dan Triwahyuningsih, 2003).
                2.2 Habitat
Artemia memiliki kemampuan beradaptasi dengan cepat terhadap variasi tingkatan oksigen di perairan dengan menghasilkan hemoglobin untuk meningkatkan afinitas oksigen. Kandungan oksigen terlarut yang baik untuk pertumbuhan artemia adalah di atas 3 mg/L namun kadar oksigen kurang dari 2 mg/L dapat menjadi pembatas produksi biomasa artemia (Mudjiman, 1983).




        2.3 Kebiasaan Makan
Artemia juga merupakan hewan yang bersifat filter feeder non selektif, oleh sebab itu faktor terpenting yang harus diperhatikan dalam memilih pakan artemia adalah ukuran partikel kurang dari 50 µm sehingga mudah dicerna, mempunyai nilai gizi dan dapat larut dalam media kultur. Artemia mulai makan pada instar ketiga, yaitu setelah saluran pencernaan terbentuk. Ukuran partikel pakan untuk larva artemia adalah 20-30 µm dan untuk artemia dewasa antara 40-50 µm Thariq et al (2002).
      2.4 Reproduksi
Pada awalnya naupli berwarna orange kecoklatan karena masih mengandung kuning telur. Artemia yang baru menetas belum bisa makan, karena mulut dan anusnya belum terbentuk dengan sempurna. Setelah 12 jam naupli tersebut akan berganti kulit dan memasuki tahap larva kedua (nauplius II). Dalam fase ini naupli tersebut akan mulai makan dengan pakan berupa mikroalga, bakteri, dan detritus organik lainya. Nauplius bersifat tidak memilih pakan sehingga akan memakan segala jenis pakan yang dapat dikonsumsinya selama ukuran sesuai dengan bukaan mulut nauplius. Naupli akan berganti kulit sebanyak 15 kali sebelum menjadi dewasa dalam kurun waktu 8 hari. Artemia dewasa rata-rata berukuran sekitar 8 mm, meskipun demikian pada kondisi yang tepat mereka dapat mencapai ukuran sampai dengan 20 mm (Sumeru, 2008).
Dalam tingkat salinitas rendah dan pakan yang optimal, artemia betina bisa menghasilkan naupli sebanyak 75 ekor perhari. Selama masa hidupnya (sekitar 50 hari) artemia bisa memproduksi naupli rata-rata sebanyak 10-11 kali. Dalam kondisi normal, artemia dewasa bisa hidup selama 3 bulan dan memproduksi naupli atau kista sebanyak 300 ekor (butir) per 4 hari (Sumeru, 2008).

BAB III. METODOLOGI

3.1. Waktu dan Tempat
               Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu-Senin tanggal 3-8 Mei 2017 pada waktu 15.00 WIB. Bertempat di Laboratorium Perikanan Fakultas Pertanian Perikanan dan Biologi Universitas Bangka Belitung.

3.2. Alat dan Bahan
               Alat yang digunakan pada praktikum Artemia ini adalah botol plastik 600ml,karet gelang, koran,tali rafia,aerator,pipet tetes , kaca preparat dan mikroskop. Sedangkan bahan yang digunakan adalah garam 1 sendok makan dan artemia yang akan diamati.

3.3.Cara Kerja
               Disediakan terlebih dahulu alat serta bahan yang dibutuhkan dalam proses penetasan dan perkembangbiakan artemia. Dibuat sebuah wadah yang berbentuk seperti corong dari botol pastik 600 ml dengan bagian bawah dipotong dan bagian tutup botolnya telah ditutup. Kemudian wadah tersebut ditutupi oleh koran serta dikratkan dengan karet gelang . Dibagian bawah botol yang telah dipotong tadi dibuatlah lobang untuk megikatkan botol tersebut meggunakan tali rafia agar dapat digantung. Dimasukkan garam 1 sendok makan dan air ¼ kedalam wadah/botol. Kemudian diaduk agar garam tadi bercampur rata. Setelah itu,dimasukan artemia sebnayk satu sendok kecil. Kemudian dimasukkan sirator agar terdapat sirkulasi udara/oksigen didalamnya. Diletakan wadah tersebut pada tempat yang tidak terlalu panas atau un dingin. Kemudian dibiarkan selama satu hari atau 24 jam.
               Pada hari pertama, digunakan pipe tetes untuk mengambil beberaa artemia yang akan diamati menggunakan kaca preparat dan mikroskop. Digunakan perbesaran 4x pada mikroskop. Kemudian dilaukan kemali pada hari kedua dan ketiga. Di gambarkan hasil paktikum pada buku gambar.












BAB V . SIMPULAN DAN SARAN
5.1 SIMPULAN
               Adapun beberapa kesimpulan yang dapat diambil yaitu :
1.      Proses penetasan artemiaterjadi pada salinitas 100-200 ppt.
2.      Perkembangbiakan atau siklus hidup artemia dimulai dari kista, lalau menetas membentuk nauplius dan akan menjadi artemia dewasa.
3.      Artemia masuk kedalam kelas crustacean yaitu golongan udang-udangan yang kecil ukurannnya.
4.      Reproduksi artemia ada 2 yaitu ovipar dan ovovivipar.

5.2 Saran
               Adapun yang dapat diambil yaitu ada baiknya budidaya artemia lebih ditingkatkan karena persediaannya yang masih terbatas dipesaran, sedangkan permintaan terus meningat. Salah satu faktor ketersediaan Artemia sp adalah keberhasilan penetasan Artemia sp , dimana tergantung dari proses pelepasan cangkang melalui teknik dekapsulasi.




DAFTAR PUSTAKA
Hamdani ,H & Astuti,S .2001. “Pengaruh Salinitas Terhadap Laju Pertumbuhan populasi Artemia sp” . Fakultas pertanian Universitas Padjadjaran Jatinangor, Bandung 40600. Jurnal Bionatura,Vol 3, No.1, Maret 2001 : 18-26
Jusadi,D.2003.” Budidaya Pakan Alami “. Departemen Pendidikan Nasional :ing Mokoginta.
Kerbs, C.J.,1978. Ecology ,The Experimental Analisys of Distributasion and Abundance, Second Edition . Haper and Row Publisher . New York.
Panggabean, MGL.1984.”Teknik Penetasan Dan Pemanenan Artemia Salina “. Pusat penelitian Ekologi Laut. Lembaga Oseanologi Nasional-LIPI Jakarta, Oseana, Volume IX No.2,1984. ISSN 0216-1877




















LAMPIRAN
1.Hari pertama masih dalm bentuk kista,
2. Hari kedua kista mulai menetas,
3. Hari ketiga kista telah menetas menjadi Nauplius,
4. hari ke empat Nauplius mulai berkembang,
1.      Hari kelima Nauplius belum juga berkembang menjadi artemia dewasa dikarenakan airatornya mati.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN PRAKTIKUM AVERTEBRATA SIPUNCULA

A Review of SCUBA Diving Impacts and Implication for Coral Reefs Conservation and Tourism Management